Pertempuran Kuala Tungkal, Perlawanan 3.000 Anggota Selempang Merah
KUALA TUNGKAL, LELEMUKU.COM – Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terdapat satu pertempuran besar yang terjadi di daerah Jambi. Namanya Pertempuran Kuala Tungkal.
Pertempuran Kuala Tungkal terjadi pada masa Agresi Militer Belanda II. Saat itu, kota Jambi telah diduduki Belanda. Pada tanggal 20 Januari 1949, kota Kuala Tungkal mendapat giliran diduduki Belanda melalui suatu pertempuran yang sengit.
Salah satu perjuangan rakyat Jambi melawan Belanda yang terhebat di daerah Jambi adalah perjuangan rakyat Kuala Tungkal. Ketika terjadi Agresi Militer II, terjadilah perlawanan dari 3.000 anggota Selempang Merah dan satu batalyon Tentara Nasional Indonesia.
Organisasi rakyat yang bernama Selempang Merah ini diketuai oleh H. Saman. Sedangkan Komandan Batalyon adalah Kapten Rivai. Front yang terbesar di Kuala Tungkal adalah Tungkal Ilir. Pertempuran yang terjadi di Tungkal Ilir dipimpin oleh Letnan Abdul Fatah.
Dalam pertempuran ini, telah gugur 300 orang Selempang Merah. Di pihak Belanda tewas 40 orang tentara. Pertempuran Kuala Tungkal menjadi salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Provinsi Jambi.
Sebelum pertempuran Kuala Tungkal, pada tanggal 28 Desember 1948, kota Jambi diserang dari udara dan dihujani dengan peluru oleh 14 pesawat terbang Belanda selama 24 jam. Kota Jambi dibumihanguskan. Belanda menerjunkan tentaranya di sekitar daerah tanah minyak dan di pinggir-pinggir kota.
Tentara kita melakukan perlawanan sengit. Kapten TNI Bakar tewas dalam serangan ini. Residen dengan stafnya dan Dewan Pemerintahan Daerah menyingkir keluar kota dengan menggunakan motorboot R.I. 120, bertolak ke Sengeti dan dari sini ke dusun Rantau Majo. Di dusun Rantau Majo inilah mereka memimpin pemerintahan dan perjuangan.
Pada dini hari tanggal 30 Desember 1948, pasukan Belanda maju menyerang Jambi. Tempat ini diduduki tanpa perlawanan pada pukul 8 pagi 31 Desember 1948 di daerah Kenali Asam, Kota Jambi, dekat lokasi pertambangan minyak.
Di Kenali Asam, dalam penyerangan tentara payung Belanda, Sudarsono, Kepala Tambang Minyak dan juga Wakil Komandan Daerah Militer, bersama dengan staf Batalyon Minyak, terdiri dari Kapten Rivai, Kapten Marzuki, dan Kapten Sujono, memimpin pembakaran sumur minyak. Tiga puluh sumur minyak terbakar hingga tiga bulan.
Kapten Marzuki tewas terkena serangan udara. Kapten Sujono gugur di kilometer 8 dalam suatu pertempuran. Sedangkan Sudarsono tertangkap dan tertawan pada tanggal 1 Januari 1949.
Kisah Pertempuran Kuala Tungkal dan perjuangan rakyat Jambi lainnya menjadi bagian penting dari sejarah nasional. Bagi generasi muda Provinsi Jambi, kisah ini adalah pengingat bahwa kemerdekaan diperoleh dengan pengorbanan besar. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
